Pada suatu ketika terdapat seorang pemuda yang sepanjang hayatnya asyik mengumpulkan kata-kata mutiara yang terdapat di seluruh pelosok dunia.
Dia menulis banyak sekali kata-kata mutiara. semuanya kurang lebih 100 jilid, membukukan setiap kata-kata mutiara yang dipelajari. akhirnya ia duduk tenang, berpuas diri dengan karya-karya yang dikerjakannya, akan tetapi setelah itu rasa leganya tergugah oleh suatu pikiran lain. Memang benar ia telah menulis dengan begitu banyak sekali tetapi tidakkah itu memenatkan siapa saja yang membacanya? Maka diapun menulis ulang dalam tempo 10 tahun lagi. jilid awal buku tadi diringkas hingga menadi 1/10 dari ukuran asal, yaitu menjadi 10 jilid.
Setelah selesai, ia duduk berpuas hati dengan hasil yang telah dikerjakannya, akan tetapi sekali lagi ia tergugah oleh pikiran lain. Dia baru sadar bahwa akan banyak orang yang sibuk untuk membaca kesepuluh jilid bukunya, lantas dengan susah payah dia meringkas kembali hingga menjadi 1 jilid saja.
Setelah 10 tahu berlalu dan kini si pemuda menjadi tua tetapi lebih bijak. Dia memperhatikan keadaan sekeliling dan mendapati bahwa sekarang ini adalah zaman serba instan (cepat). Manusia selalu menginginkan setiap benda dengan instan - mie instan, kopi instan, foto instan, populer instan, kaya instan dsb. Oleh karena itu, dia mengambil semua jilid bukunya dan meringkas lagi hingga menjadi beberapa vandel yang berisikan satu pesan di dalamnya.....karena ia tahu bahwa manusia pada saat ini kalau bisa menginginkan hikmah dengan instan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar